-->

Miris, 90 Persen Pasar Ayam Dikuasai Korporasi Asing

  

peternakan ayam pedaging. (istimewa)

globalnewsindonesia, Bandung - Sudah bukan barang baru lagi komoditi pasar asli di Indonesia bersaing dengan barang asing yang masuk. Namun apa jadinya jika sektor peternakan berupa Ayam (Live Bird) juga mulai dirambah tangan asing. Kini hal tersebut benar terjadi. Sebanyak 90 persen saham pasar ayam ternak sudah dikuasai pasar luar negeri.


Faktor itu yang membuat peternak Broiler sekelas Usaha Masyarakat Kecil Menengah (UMKM) mulai kocar-kacir di ambang kesusahan untuk menyaingi pasar pengusaha kelas wahid.


Menurut Perwakilan Forum Komunikasi Peternak Ayam Millennial Jawa Barat, Nurul Ikwan, seperti dikutip dari Republika. Para peternak membutuhkan uluran tangan Pemerintah untuk mendongkrak usaha peternak lokal guna melancarkan bisnisnya. 


Harapannya yakni Pemerintah bisa membatasi jumlah impor bloiler yang masuk, serta berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas produk lokal utamanya milik UMKM.


Dikatakan Ikwan, Itu terjadi akibat mudahnya perusahaan-perusahaan asing skala besar yang mencari makan di tanah Ibu Pertiwi ini. Sebagai Imbasnya, peternak rakyat yang memiliki modal pas-pasan hanya bisa pasrah.


Mengacu fakta di lapangan, kata dia, bahwa ada dua perusahaan industri ayam asing asal Thailand dan perusahaan dengan kepemilikan saham asal Singapura telah menjadi pemegang pangsa pasar ayam nasional masing-masing sebanyak 40 dan 30 persen.


“ ada 15 perusahaan yang memiliki izin impor GPS (Grandparent Stock) indukan nenek ayam. Data itu dinyatakan Kepala Seksi di bawah Ditjen Perdagangan Dalam Negeri pada kegiatan Rembug Perunggasan Nasional di Bogor bulan lalu,” Ucapnya.


“ Bagi peternak kecil efeknya yaitu setelah beberapa perusahaan melakukan merger, maka 90 persen pangsa pasar dalam negeri bakal dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing yang dianggap memiliki modal besar. Hal itu, bukan hanya prediksi peternak semata, melainkan juga dibenarkan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), “ Tambahnya


Selain itu, kata dia, 20 persen pangsa pasar ayam nasional lainnya dikuasai perusahaan asing asal Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan. Sementara itu 8 persennya dimiliki oleh delapan perusahaan lokal yang sudah memiliki izin dalam pengembangan budidaya peternakan hingga dapat menjual Live Birds (ayam hidup). 


Ikwan mengklaim, bahwa ketidaksehatan persaingan usaha yang ada, menjadi salah satu alasan mengapa harga ayam di tingkat peternak seringkali tak stabil. Karena, stabilitas tidak akan bisa dijaga selama supply-demand tidak sehat ditambah adanya wabah virus corona tahun ini


Permasalahan yang terjadi saat ini, kata dia, bisa jadi dipengaruhi oleh kebijakan tahun 2018 yang memasukkan ayam GPS berlebih sehingga terjadi oversupply ayam final stock di lapangan pada 2020.


"Maka itu, jangan heran jika para pelaku UMKM di sektor perunggasan amat mengharapkan perhatian pemerintah terhadap nasib bisnis mereka," Tukasnya (*)


Editor : Gayuh Ilham Widadi


Side Ads

loading...