-->

Cerita Dari Desa: Berawal Dari Hidangan Bubur Jagung Apa ya.?


GlobalNewsindonesia.com-Bantaeng. -Sore itu tepatnya di sebuah Kampung Dusun Parang Labbua Desa Kayu loe di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng Sulawesi selatan, dimana aktifitas masyarakatnya setiap hari bercengkrama dengan sebuah harapan hidup untuk hari esok dengan menggatungkan hidup dengan bertani

Disela kesibukan sebagai petani Jagung, mereka berkumpul melepas kepenatan berbagai kisah melalui cerita hidup, serta isu yang saat ini mengemparkan jagad maya.

Ngumpul bareng adalah hal yang biasa biasa saja tampa ada angenda dan terjadi tampa terjadwal, tempatnya kadang di teras rumah atau orang kampung sebut, paladang lego-lego (teras rumah)

Dan itulah yang terjadi sore ini  di rumah Dg Basa warga Dusun parang labbua Desa kayu loe, Jumat,(24/7/20) tiba-tiba hadir sebuah hidangan bubur jagung yang ditaburi kacang bercampur sayur, bersanding lombok tumis yang menyengat, hidangan ini sering disebut (Barobo)

"Ya barobo entah dari mana asal muasal makanan ini yang jelas cara membuatnya terbilang mudah bisa di nikmati orang banyak,

Sembari menikmati Barobo, cerita dan kabar Corono pun ikut ningrung menhiasai meja yang pertama diungkap H.Manaking salah satu warga kampung itu.

Menurutnya dirinya tidak takut dengan corona dan dia meyakini bahwa penyakit itu sama denga penyakit atau virus yang lainya. dan Ajal adalah penentunya.

"Corona bisa hilang kalau pemeritah yang menghilangkan, bisa leyap kalau pemerintah yang melenyapkan dan bisa pudar jika saja tak dikabarkan secara berlebihan itu pendapat saya"kata H.Manaking sembari menambah Barobbo

"Kemarin saya khawatir dengan ditutupnya pasilitas ibadah tapi sekarang biasa-biasa saja, padahal dikabarkan sudah ada yang positif bahkan sudah ada yang menjadi korban saat ini."sambungnya
Foto/istimewa: Sudirman tengah lagi nikmati Barobo sembari berkisah pahit getirnya hidup dirantau dalam mengapai harapan dan impian Jumat,(24/7/20)
Beda pula cerita Sudirman yang sering disapa, Harum juga warga setempat, dirinya berkisah tentang pahit manisnya hidup menjadi TKI di negeri melayu malaysia.

Dirinya di anggap sukses oleh tetangganya karna sudah membangun sebuah Rumah Batu hasil dari Rantau.

Namun apa yang tetanggnya kira tak serti apa yang dilihat saat ini, dirinya berkisah tentang suka duka menjadi sang perantau.

"Meningalkan kampung halaman dengan sebuah harapan yang belum pasti, itu semua karna terpaksa karna tidak ada jaminan peningkatan taraf hidup yang lebih baik" katanya

"Saya kerja keras bermandi keringat bahkan kerja lembur dengan balasan ringgit yang menjadi incaran untuk dibawah pulang ke kampung (bija pammanakang-red sanak saudara)"tungkasnya

Berbagai suku ada disana, dengan satu tujuan mengejar Ringgit sebanyak-banyaknya yang membawa kita lupa bahawa kita sudah puluhan tahun meninggalkan kampung halaman.

Bahkan dengan mudahya akses beberapa hiasan dunia seperti minuman, narkoba dan berbagai jenis lainya sehingga banyak yang terlena dan merasa masih sehari di perantauwan"kata harum mengisahkan

Sesekali Harum memperlihatkan duri sawit yang ikut dibawah pulang yang masih tertanam ditanganya, dimana kisahya diiyakan oleh Iwan yang juga pernah merasakan getirnya hidup di Malaysia sewaktu masih muda.

Masih banyak kisah dan unek-unek yang inging di tuangkan agar rasa, Apa yang selama mukin tak pernah dituangkan terhempas sudah, bersama habisnya hidangan Barobbo diatas meja.

Sayup-sayup Ashan Magrib berkumandang sejenak menhentikan acara itu satu persatu pamit untuk pulang.

Sementara, Abdul Maris yang mendengarkan kisah mereka menhayati dalam hati dan berusaha merekam melalui memori pikiran agar bisa dituangkan dalam sebuah tulisan, agar halayak tauw bahwa  hidup adalah skenario tuhan yang harus dijalani.

Serta menarik beberapa kesimpulan bahwa, Data yang disampaikan penguasah terkadang beda dengan rasa yang masyarakat alami.

Sejatinya semua ingin sukses maju dan berusaha dikampung sendiri namun kabar tentang hujan Emas disebrang sana terkadang menantang kita untuk menyeberangi lautan.(*) Abm