-->

Gegara Tim Cawako, Suhu Pilkada Serentak 2020 Bukittinggi Mulai Memanas


GlobalNewsIndonesia.com, BUKITTINGGI - Warga Ipuh Mandiangin, Kelurahan Cimpago Ipuh, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumbar dihebohkan sekelompok wanita berpakain seragam tim calon Walikota dan Wakil Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias - Syahrizal (Rasya). Kelompok wanita yang mengatasnamakan kelurahan itu mendatangi rumah warga meminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).  


Sebagaimana diketahui, Rasya adalah pasangan petahana dengan nomor urut 1 di pilkada serentak Desember 2020. 


Informasi diperoleh media ini di lapangan, Sabtu (17/10/2020), kedatangan sekelompok wanita berpakaian tim Rasya membuat warga setempat resah dan takut jika tidak memberikan KTP dan KK. Ketakutan warga disebabkan kelompok tim seragam tersebut mengatakan "awas kamu anggota KUBE" (Kelompok Usaha Bersama). Ucapan awas kamu itu ditujukan kepada seorang kepala rumah tangga bernama Dafrawira Tuanku Labai.


Labai beranggapan ucapan yang dilontarkan salah seorang kelompok tim, "awas kamu anggota KUBE" merupakan suatu ancaman, dimana nantinya jika tidak memberikan KTP dan KK akan dikeluarkan dari anggota KUBE dan tidak lagi mendapatkan bantuan.

     

"Ucapan salah seorang kelompok tim wanita berseragam Rasya yang mengatasnamakan kelurahan, tujuan meminta KTP dan KK tersebut saya anggap ancaman. Tentunya saya takut akan dikeluarkan dari kelompok KUBE dan nantinya, tidak lagi mendapatkan bantuan beras atau sembako," ujar Labai. 


Ia mengatakan, tidak memberikan apa yang diminta oleh sekelompok wanita berseragam Rasya sebanyak enam wanita itu, meskipun mengaku dari kelurahan. 


Kata Labai, sebelumnya dia sempat mepertanyakan untuk apa kegunaan KTP dan KK diminta kepada warga. Pengakuan kelompok berseragam tim Rasya, lanjut Labai, KTP dan KK diperlukan karena orang dari kelurahan yang minta.  


"Saya terang-terangan menjawab tidak bersedia memberikan KTP dan KK. Namun, salah seorang dari mereka kembali mengatakan "Bapak kan anggota KUBE" lalu, diantara mereka perintahkan teman-nya mengambil foto saya," terangnya.


Sementara, seorang tokoh pemuda H. Jon yang mendampingi Labai mengatakan, tidak menerima kejadian yang dilakukan kelompok wanita tersebut. Menurutnya, ada hak masyarakat yang tidak boleh diancam demi keuntungan kandidat. Apalagi mereka mengaku dari kelurahan. 

 

"Itu merupakan nada ancaman dan membuat warga resah. Saya jelas tidak setuju," tegas H. jon seraya menambahkan, parahnya lagi mereka datang ke rumah warga mengatasnamakan kelurahan tapi berseragam tim Rasya.


Setelah dia mengetahui kejadian tersebut, H.Jon langsung mengklarifikasi ke pihak kelurahan melalui telepon. "Jawaban kelurahan tidak ada program untuk mempertanyakan kepada warga soal KTP dan KK," sebutnya. 


Saat ini, sebuah video sekelompok wanita berseragam Rasya, ditengarai meminta KTP dan KK kepada warga beredar luas di media sosial. Dalam video itu sedang terjadi keributan antara kelompok berseragam dengan warga dimana isinya sama-sama mengeluarkan nada ancaman dan akan saling lapor.



Terpisah, Yen, salah seorang dari sekelompok wanita berseragam tim Rasya datang ke rumah warga Ipuh Mandiangin saat ditemui, membantah tidak benar meminta KTP dan KK kepada warga setempat mengatasnamakan kelurahan. 


"Soal tim Rasya, benar saya termasuk tim dan saya sebagai korlap. Terkait meminta KTP dan KK, kami hanya memetakan berapa orang dalam satu keluarga yang masuk kategori pemilih," akunya. 


Kata dia, tuduhan dialamatkan terhadap mereka meminta KTP dan KK mengatasnamakan kelurahan merupakan tuduhan yang salah dan keliru. 


Ia jelaskan, mereka datang ke rumah warga sewaktu meminta KTP dan KK benar sebagai tim Rasya kelurahan. "Tepatnya, tim Rasya itu, kan ada dari kelurahan dan kecamatan. Kebetulan kami datang ke rumah warga memang dari tim kelurahan," terangnya.         


Terkait ancaman atau intimidasi warga tidak memberikan KTP dan KK, kata Yen, tidak menyampaikan hak pilih di pilkada akan dikeluarkan dari KUBE juga tidak benar.


"Kami tidak mengancam atau intimidasi saat datang ke rumah warga dan kami juga tidak pernah mengatakan jika warga tidak memberikan KTP dan KK akan dikeluarkan dari KUBE," sebutnya.


Yen juga mengakui telah menonton video yang beredar di media sosial berisikan keributan dirinya dengan warga di Ipuh Mandiangin.


"Saya sudah lihat videonya. Dan benar itu saya terlibat keributan dengan warga yang merekam kedatangan kami," tutupnya. (an)

 

Foto: Labai, baju kemeja petak-petak didamping H. Jon kemeja putih

 

 



Side Ads

loading...