Derita Pilu Dg.Siya Bersama Si Buah Hati -->
Global News Indonesia Menerima Tulisan dan Artikel, Kegiatan Komunitas, Sosial, Opini, Informasi Donasi Rumah Ibadah dan Panti Asuhan, dll | Global News Indonesia juga membuka Kesempatan untuk Biro & Jurnalis Muda diseluruh Indonesia, | Jurnalis GNI dibekali Identitas dan surat Tugas, Informasi dan Pengaduan di Center 0823-7323-2423

Derita Pilu Dg.Siya Bersama Si Buah Hati

11/17/2020, 11/17/2020




GlobalNewsindonesia.com-BANTAENG,-Nasib pilu dialami Siya (40) hidup lumpuh dan tidak dinafkahi oleh suami satu tahun terakhir.


Setelah menikah Siya numpang tinggal di rumah orang tua tepatnya di Kelurahan Bontorita, Kecamatan Bisappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. 


Di rumah itulah Siya hidup bersama suami Kaing (42), ibu Bada (70), dan empat anak Suci, Sinta, Ira, dan Rizal.


Siya hanya bisa duduk di lantai beralaskan tikar biru, kepalanya direbahkan dengan tumpukan bantal di depannya, tubuhnya dibalut sarung warna coklat yang lusuh, Sesekali ia menjerit kesakitan.


Hanya ada satu ranjang kayu tanpa pintu, bagian dapur piring berserakan di mana-mana. Sementara atap di dapur sudah bolong sehingga ketika hujan air leluasa masuk.


Siya mengatakan pada tahun 2018 jatuh di rumah panggung, itulah yang menyebabkan tulang paha bagian kanan patah. 


"Jadi waktu saya duduk di dapur milik tetangga, lantai terbuat dari papan itu  roboh sehingga jatuh dan tulang di paha patah. Seketika dilarikan ke RSUD Bantaeng berobat. Setelah itu tidak pernah lagi pergi karena tidak ada yang antar," kata Siya.


Kini Siya hanya bisa pasrah, menghabiskan hari-harinya duduk berjam-jam di lantai. Tubuhnya tidak bisa dibaringkan ke lantai.


"Kalau datang sakitnya hanya bisa meraung-raung tak kuat menahan sakit,"tuturnya dengan mata berkaca-kaca. 


Tak dinafkahi suami.


Kaing yang bekerja sebagai tukang becak tidak peduli dengan kesembuhan Siya. Jangankan diantar berobat, diberi uang untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak.


Jika Kaing mendapatkan uang dari mengayuh becak, uang itu habiskan sendiri. Sementara untuk biaya sekolah anak-anak ditanggung oleh mertua Siya. 


Hidup dari belas kasihan tetangga


Beruntung Siya memiliki tetangga yang menanggung kebutuhan sehari-harinya seperti lauk pauk, air dan listrik. 


"Alhamdulillah ada tetangga selama ini mau membantu, kalau tidak maka mungkin sampai hari ini kami tidak bisa bertahan hidup," ujar Siya.


Sementara Lurah Bontorita H Ahmad Efendi mengatakan Siya mendapat bantuan sembako. 


"Kalau bu Siya terima PKH, BPNT, bantuan sembako dan pernah dapat bedah rumah dari Baznas Bantaeng," ungkapnya.

TerPopuler