Warga Terusik, Diduga Ada Konspirasi Tambang Pasir -->
Global News Indonesia Menerima Tulisan dan Artikel, Kegiatan Komunitas, Sosial, Opini, Informasi Donasi Rumah Ibadah dan Panti Asuhan, dll | Global News Indonesia juga membuka Kesempatan untuk Biro & Jurnalis Muda diseluruh Indonesia, | Jurnalis GNI dibekali Identitas dan surat Tugas, Informasi dan Pengaduan di Center 0823-7323-2423

Warga Terusik, Diduga Ada Konspirasi Tambang Pasir

6/10/2020, 6/10/2020


GlobalNewsindonesia.com-Borong,-Warga Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, mencium adanya konspirasi antara Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Timur dengan pemilik tambang. Pasalnya keberadaan tambang pasir di Kampung Liang Leso dan Ikong Kilo tersebut  disinyalir adanya mafia karena telah terjadi alihfungsi lahan.

AS, salah satu warga Watu Mori, saat ditemui media ini, Rabu (10/6/2020), mengatakan tempat galian tersebut pada tahun 2009, oleh Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, telah dialokasikan untuk penerima bansos persawahan (kelompok tani arjuna) yang diketuai oleh Alm. Kanisius Agung.

"Kadis pertanian yang menjabat saat itu Donatus Datur dan kabid sarana prasarana Servas Ledo. Saat ini, ketika dia menjabat kepala Dinas Lingkungan Hidup, malah dialihfungsikan sebagai area tambang pasir. Ada apa?," kata AS.

Dia menambahkan, akses keluar masuk  aktifitas tambang pasir tersebut memakai jalan desa. Dugaan kuat, antara pihak pemerintah desa dan pemilik tambang terjalin hubungan simbiosis mutualisme tanpa ada dana yang masuk ke kas desa.

"Pihak Desa Watu Mori memfasilitasi jalan untuk aktifitas pertambangan.
Namun dalam proses eksploitasi penambang, tidak berkontribusi terhadap PADes," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkunagan Hidup Kabupaten Manggarai Timur Donatus Datur, melalui sambungan telepon kepada rekan media menjelaskan, daerah Liang Leso Desa Watu Mori adalah daerah tambang.

"Disana memang daerah tambang. Ada 2 kelompok yang mengantongi ijin. Sala satunya yaitu Yosep Ode. Ijin Amdalnya sebentar lagi dikeluarkan karena belum adanya kesepakatan antara Desa dengan pemilik tambang soal pemakaian jalan desa," jelas Datur.

Info yang diperoleh media ini dari para petani sekitar lokasi, hasil pertanian mereka akhir-akhir ini cendrung menurun dikarenakan limbah dan asap serta debu aspalt mixing plant.(*)

Penulis : Wensi
Editor   : Abm

TerPopuler