Hidup Sendiri di Rumah Reot, Lapangan Dampang Jadi Pelipur Lara Nenek Nasi



GlobalNewsindonesia.com-Bantaeng; Perjalan hidup manusia dari lahir hinga dewasa sampai memasuki hari tua tentunya tak semanis gula-gula, penuh onak dan duri, suka dan duka, mestilah kita harus rela mandi keringat agar bisa hidup mewah dan layak, serta berharap masa tua nanti kita habiskan dengan bahagia bersama anak cucu.

Namun nasib yang dialami Nenek Nasi (75) Warga Kelurahan Dampang Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng Sul-Sel ini tidak menyangka hidupnya akan sensara.

Tanpa suami yang sudah meninggal dunia, ia harus berjuang sendiri dan bertahan hidup menghabiska sisah umurnya dari belas kasih orang lain dan tetanganya, Selain itu, ia juga hidup sebatang kara dan tinggal di rumah reot yang hampir roboh.


Sejak suaminya meninggal  nenek Nasi tetap memilih untuk bertahan hidup di rumah tua peningalan suaminya yang beratap seng yang nampak bocor disisip terpal plastik bekas, dinding dan lantai rumah juga demikan, dirinya mengaku punya anak semata wayang tapi dia lebih memilih hidup sendiri.

"Tinggal sendiri ja pak gak ada juga cucu yang temani", jawabnya singkat

Terpancar dari matanya yang sayup seakan memendam rasa pilu yang engan diutarakan mukin karna diriku baru pertama kali dilihatnya atau mukin dirinya sosok yang berhati baja yang sudah melalui berbagai cobaan dan rintangan hidup.

Merasa ibah dengan pertanyaan  awak media GNI yang mencoba mempertanyakan peran pemeritah dengan berbagai programnya untuk keluarga prasejahtera (Miskin)

Mulai dari KPH, Bedah Rumah, PUSKESOS atau Pusat Kesejaheraan Sosial adalah layanan rujukan satu pintu (terintegrasi) di tingkat desa, dan kelurahan yang merupakan ‘miniatur’ Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) yang berada di tingkat kabupaten/kota serta Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan program BKL Bina keluarga langsia(BKKBN)

Lagi-lagi Asiah (39) tentanganya yang hadir berjejer di anak tangga ala gaya (pakampong tulen-Red) mengutarakan kekecawaanya terhadap realisai program peningkatan kesejahteraan, yang menurutnya masih banyak tidak tepat sasaran.

"Kalau Beras raskin dapat ji itu Nenek Nasi dan Sakat fitra dari Baznas, KWH listriknya juga kadang adaji yang bayarkan tapi kalau bedah rumah tidak pernah kodong dapat"jelas Asiah

Langjut kata Asiah, Adaji yang mendata-data tapi tidak pernahka dapat, sekarang pemerintah tutup mata nanti pemilihan baru bergerilia, dua anakku sekolah kelas 1 SMP dan satu lagi sudah kelas tiga SD tidak ada pernah dapat bantuan kondong,!!  padahal ada yang tidak layak kok dapat"kata Asiah

Masih banyak yang ingin dia sampaikan namun, suaranya mulai redup tertutup sorak bahagia penerima hadiah dan tropi dari tribun lapangan sepak bola yang berada didepan rumah Nenek Nasi, dimana sore itu selasa (11/02/2020) bertepatan dengan penutupan turnamen sepak bola mini, Dampang cup 2020 yang memperebutkan hadiah total 13 juta.

Yang digelar oleh panitia pelaksana Dampang cup 2020 bersama komonitas pemuda Dampang, Diketahui dari 26 grup yang berkompetisi menyisahkan 2 grup berhasil masuk babak pinal dengan mempertemukan antara, Parang pangi klub dari Kecamatan Sinoa vs Gantarang Keke, sebagai tuan rumah sekaligus keluar sebagai juara satu melalui adu penalti.

Rasa haru dan bangga mengakhiri mini soccer turnament open, Dampang cup 2020 dimana pemenang meraih hadiah tropi dan uang sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada pemuda pencinta olah raga bola.

Beda halnya dengan Nenek Nasi dengan adanya beberapa kegiatan yang diselenggarakan didepan rumahnya akan ramai, sedikitnya akan menambah ceria hari-harinya dimana dirinya seakan mendapat kunjungan dari keluarga besar sebagai pelipur lara dimana diketahui pada, 17/02/2020 mendatang kembali akan berlangsung Musabaqa Tilawaitil Quraan tingkat Kabupaten.(*) Abm

Total Pageviews